Rabu, 11 Mei 2011

pltmh

Pembangkit Listrik Mikrohidro
Listrik, kini menjadi kebutuhan pokok bagi manusia. Bayangkan, jika listrik padam saat malam, pemukiman penduduk seakan-akan menjadi kota hantu (dengan catatan, bila belum satu orang pun yang menyalakan lilin, lampu teplok, lampu senter, atau lampu emergensi).
Pernahkah anda membayangkan bahwa sebenarnya kita bisa menghasilkan listrik sendiri? Tentu saja ada syarat yang dibutuhkan, salah duanya, air yang mengalir kontinyu dan air yang mengalir dengan deras atau setidaknya aliran air memiliki perbedaan ketinggian.

Selama ini, kebanyakan dari kita yakin dan percaya bahwa listrik hanya bisa disediakan dari negara (baca: PLN). Sehingga, penduduk daerah pelosok negeri hanya bisa gigit jari, kapan ya waktu kita akan datang untuk mengecap sedikit cahaya dari benda yang telah lama ditemukan Alfa Edison?
Waktu sekolah dulu, salah seorang guru Fisika saya, memanfaatkan sungai kecil dekat rumahnya untuk menghemat pasokan listrik dari PLN. Tapi memang daya yang dihantarkan tidak sedahsyat energi listrik yang diberikan oleh PLN, namun cukup untuk keperluan listrik daya rendah seperti lampu rumah.
Pembangkit listrik yang demikian disebut Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro. Kenapa mikro? Karena daya yang dihasilkan tergolong kecil (masih dalam hitungan ratusan kilowatt). Tenaga air ini bisa berasal dari saluran sungai, saluran irigasi, air terjun alam, atau bahkan sekedar parit asal airnya kontinyu. Prinsip kerjanya adalah memanfaatkan tinggi terjunnya dan jumlah debit air.
Teknik dari pembangkit listrik ini sangat sederhana, yaitu menggerakkan turbin dengan memanfaatkan tenaga air. Untuk bisa menggerakkan turbin ini, harus ada air yang mengalir deras karena perbedaan ketinggian. Jika di suatu daerah tidak ada air yang mengalir deras, maka dibuat jalur air buatan misalnya bendungan kecil yang berfungsi sebagai pembelok aliran air.
Lalu, air yang mengalir deras akan sanggup menggerakkan turbin yang disambungkan ke generator, sehingga dihasilkanlah energi listrik.
Mikrohidro ini bisa dikatakan sebagai teknologi ramah lingkungan karena tidak menghasilkan limbah atau sisa buangan yang berbahaya. Selain itu, bila diterapkan pada desa-desa terpencil, mereka akan mengurangi pemakaian bahan bakar fosil yang tidak bisa diperbaharui seperti minyak tanah atau pemakaian dari hasil hutan seperti kayu bakar. Dan juga akan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap hutan, karena bila ingin air terus mengalir, secara tidak langsung hutan harus dijaga dari penebangan secara liar.
Kapan ya, seluruh pelosok daerah di negara kita bisa menggunakan teknologi ini?
Perencanaan Dasar PLTMH

Perencanaan PLTMH

Pemilihan Lokasi dan Lay out Dasar
Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) pada dasarnya memanfaatkan energi potensial air Gatuhan air). Semakin tinggi jatuhan air ( head ) maka semakin besar energi potensial air yang dapat diubah menjadi energi listrik. Di samping faktor geografts yang memungkinkan, tinggi jatuhan air ( head ) dapat pula diperoleh dengan membendung aliran air sehingga permukaan air menjadi tinggi.
Secara umum lay-out sistem PLTMH merupakan pembangkit jenis run off river, memanfaatkan aliran air permukaan (sungai). Komponen sistern PLTMH tersebut terdiri dari banaunan intake (penyadap) - bendungan, saluran pembavia, bak pengendap dan penenang, saluran pelimpah, pipa pesat, rumah pembangkit dan saluran pembuangan. Basic lay-out pada perencanaan pengembangan PLTMH dimulai dari penentuan lokasi intake, bagaimana aliran air akan dibawa ke turbin dan penentuan tempat rumah pembangkit untuk rnendapatkan tinggi jatuhan ( head ) optimum dan aman dari banjir.

• Lokasi bangunan intake
Pada umumnya instalasi PLTMH merupakan pembangkit listrik tenaga air jenis aliran sungai langsung, jarang yang merupakan jenis waduk (bendungan besar). Konstruksi bangunan intake untuk mengambil air langsung dari sungai dapat berupa bendungan (intake dam) yang melintang sepanjang lebar sungai atau langsung membagi aliran air sungai tanpa dilengkapi bangunan bendungan. Lokasi intake harus dipilih secara cermat untuk menghindarkan masalah di kemudian hari.

• Kondisi dasar sungai
Lokasi intake harus memiliki dasar sungai yang relatif stabil, apalagi bila bangunan intake tersebut tanpa bendungan (intake dam). Dasar sungai yang tidak stabil inudah mengalami erosi sehingga permukaan dasar sungai lebih rendah dibandingkan dasar bangunan intake; hal ini akan menghambat aliran air memasuki intake.

Dasar sungai berupa lapisanllempeng batuan merupakan tempat yang stabil. Tempat di mana kemiringan sungainya kecil, umumnya memiliki dasar sungai yang relatif stabil. Pada kondisi yang tidak memungkinkan diperoleh lokasi intake dengan dasar sungai yang relatif stabil dan erosi pada dasar sungai memungkinkan teladi, maka konstruksi bangunan intake dilengkapi dengan bendungan untuk menjaga ketinggian dasar sungai di sekitar intake.

• Bentuk aliran sungai
Salah satu permasalahan yang sering terjadi pada instalasi PLTMH adalah kerusakan pada bangunan intake yang disebabkan oleh banjir. Hal tersebut sering terjadi pada intake yang ditempatkan pada sisi luar sungai. Pada bagian sisi luar sungai (b) mudah erosi serta rawan terhadap banjir. Batti-batuan, batang pohon serta berbagai material yang terbawa banjir akan mengarah pada bagian tersebut. Sementara itu bagian sisi dalam sungai (c) merupakan tempat terjadinya pengendapan lumpur dan sedimentasi, schingga tidak cocok untuk lokasi intake. Lokasi intake yang baik terletak sepanjang bagian sungai yang relatif lurus (a), di mana aliran akan terdorong memasuki intake secara alami dengan membawa beban (bed load) yang kecil.

• Lokasi rumah pembangkit (power house)
Pada dasarnya setiap pembangun an mikrohidro berusaha untuk mendapatkan head yang maksimum. Konsekuensinya lokasi rumah pembangkit (power house) berada pada tempat yang serendah mungkin. Karena alasan keamanan dan 6nstruksi, lantai rumah pembangkit harus selalu lebih tinggi dibandingkan permukaan air sungai. Data dan informasi ketinggian permukaan sungai pada waktu banjir sangat diperlukan dalam menentukan lokasi rumah pembangkit.
Selain lokasi rumah pembangkit berada pada ketinggian yang aman, saluran pembuangan air ( tail race ) harus terlindung oleh kondisi alam, seperti batu-batuan besar. Disarankan ujung saluran tail race tidak terletak pada bagian sisi luar sungai karena akan mendapat beban yang besar pada saat banjir, serta memungkinkan masuknya aliran air menuju ke rumah pembangkit.
• Lay-out Sistem PLTMH
Lay out sebuah sistem PLTMH merupakan rencana dasar untuk pembangunan PLTMH. Pada lay out dasar digambarkan rencana untuk mengalirkan air dari intake sampai ke saluran pembuangan akhir.
Air dari intake dialirkan ke turbin menggunakan saluran pembawa air berupa kanal dan pipa pesat (penstock). Penggunaan pipa pesat memerlukan biaya yang iebih besar dibandingkan pembuatan kanal terbuka, sehingga dalam membuat lay out perlu diusahakan agar menggunakan pipa pesat sependek mungkin. Pada lokasi. tertentu yang tidak memungkinkan pembuatan saluran pembawa, penggunaan pipa pesat yang panjang tidak dapat dihindari.
Pendekatan dalam membuat lay out sistem PLTMH adalah sebagai berikut:
Air dari intake dialirkan melalui penstok sampai ke turbin. Jalur pemipaan mengikuti aliran air, paralel dengan sungai (gbr 5.3, long penstock following river). Metoda ini dapat dipilih seandainya pada medan yang ada tidak memungkinkan untuk dibuat kanal, seperti sisi sungai berupa tebing batuan. Perlu diperhatikan bahwa penstock harus aman terhadap banjir.

Panduan Lengkap Pemasangan Dari Mikrohidro
Panduan Pemasangan, Pengoperasian, dan Perawatan Mikrohidro / Microhydro

1 PENDAHULUAN
Panduan ini berisi tentang bagaimana melakukan pemasangan (instalasi), pengoperasian dan pemeliharaan turbin Crossflow T15. Untuk memudahkan para pengguna panduan ini dilengkapi dengan gambar teknik turbin dan beberapa katalog/brosur komponen-komponen pendukung yang dapat dibeli di pasaran.

Sistem turbin Crossflow T15 terdiri dari turbin Crossflow T15 dan transmisi mekanik yang menghubungkan poros turbin dengan generator. Bagian utama dari turbin Crossflow T15 adalah pipa adapter, rotor/runner, guide vane dengan hand regulator dan housing. Bagian utama dari transmisi mekanik terdiri dari kopling, bearing, pulley pada poros turbin dan generator yang dihubungkan dengan sebuah flat belt.
Adapter pipeHand regulatorTurbin

2 PEMASANGAN & PEMELIHARAAN TURBIN CROSSFLOW T15
2.1 Turbin Crossflow T15

2.1.1 Gambaran Umum Turbin Crossflow T15
Turbin Crossflow T15 sebagian besar dibuat dengan menggunakan material mild-steel. Komponen utama turbin Crossflow T15 adalah pipa adapter, rotor/runner, guide vane dengan hand regulator dan housing.

2.1.1.1 Pipa Adapter
Air dari pipa pesat memasuki turbin melalui suatu pipa adapter. Penampang inlet turbin berbentuk persegi panjang sedangkan penampang pipa pesat berbentuk lingkaran sehingga perlu media penyesuai aliran yang disebut dengan pipa adapter. Aliran air Halaman 2
berpenampang lingkaran akan berubah menjadi berbentuk persegi setelah mengalir melalui pipa adapter ini.

2.1.1.2 Guide vane.
Komponen ini berfungsi untuk menutup dan membuka aliran air masuk (inlet) ke turbin. Debit air yang memasuki turbin dapat diatur dengan komponen ini secara manual menggunakan hand regulator.

2.1.1.3 Runner
Bagian utama dari turbin adalah rotor/runner, yang terdiri dari bilah-bilah tipis dengan penampang kurva (seperti bilah pipa) yang dirangkaikan menjadi satu kesatuan dengan sebuah poros. Kisi-kisi (blades) pada runner dibuat dari plat baja yang dibentuk dan dilas pada beberapa plat piringan (side atau intermediate disks). Beberapa plat piringan tersebut dilas pada sebuah poros (shaft). Poros ini pada bagian ujung-ujungnya ditumpu oleh dua buah bearing.

Aliran air dari pipa adapter akan memasuki turbin dan menumbuk kisi-kisi sehingga poros runner berputar. Energi kinetik yang terjadi pada runner turbin kemudian diteruskan melalui suatu transmisi mekanik ke poros generator sehingga dapat berputar dan menghasilkan energi listrik.

2.1.1.4 Housing
Housing turbin terdiri dari casing (side panel) dan penutup casing (top cover). Pada bagian top cover terdapat access hole untuk membantu pemasangan guide vane. Bentuk bagian bawah top cover berfungsi untuk memandu aliran air memasuki ruang antara bilah (blade) runner.

Housing turbin dipasang pada base frame yang dicor dengan pondasi turbin. Untuk mengencangkan bagian-bagian housing yang terpisah digunakan mur dan baut.

2.1.2 Perawatan Turbin Crossflow T15
Turbin Crossflow T15 tidak memerlukan banyak perawatan sepanjang air yang digunakan tidak banyak mengandung butiran pasir dan tidak bersifat korosif. Apabila terdapat benda-benda seperti ranting pohon atau batu yang berhasil masuk ke dalam turbin sehingga mengganggu putarannya maka perlu dilakukan pembersihan terhadap benda-benda tersebut. Perlu diperhatikan ketika melakukan pemeriksaan runner, turbin harus dalam keadaan tidak beroperasi.

Runner perlu diperiksa secara rutin. Bilah-bilah runner yang terbuat dari mild steel bersifat fragile. Bilah-bilah ini dapat rusak akibat tumbukan benda-benda kecil seperti pasir dan kerikil. Turbin sebaiknya dioperasikan pada kondisi optimum sehingga diperoleh efisiensi dan keamanan operasi terbaik. Pengoperasian turbin pada bukaan guide vane (katup) maksimum tidak disarankan karena dapat mengakibatkan turbulensi air yang menyebabkan efisiensi turbin turun. Kondisi operasi turbin yang optimum diperoleh pada bukaan guide vane 80%.

Hand regulator pada turbin dihubungkan secara mekanik menggunakan mekanisme gear dengan guide vane yang juga berfungsi sebagai katup bukaan aliran air. Kondisi pelumasan, permukaan gigi dan seal pada mekanisme penghubung hand regulator tersebut harus selalu diperiksa secara teratur.

Bearing turbin harus dijaga tetap kering dan diperiksa temperatur kerjanya. Pada bearing terdapat O-ring seal dan seal mekanik (labyrin) untuk mencegah air masuk ke dalam bearing. Kelebihan pelumas pada bearing harus dihindari. Kelebihan pelumas dapat menyebabkan panas berlebih ( di atas 70oC) yang menyebabkan kerusakan bearing.

2.2 Sistem Transmisi Mekanik
Sistem transmisi mekanik berfungsi untuk memindahkan daya dari putaran runner turbin ke generator. Transmisi mekanik yang digunakan menggunakan flat belt dan pulley dengan rasio tertentu untuk menaikkan putaran sehingga generator dapat bekerja pada putaran operasinya, 1500 rpm.. Efisiensi transmisi mekanik dengan menggunakan flat belt dapat mencapai 98% dengan slip 1% - 2%.

Sistem transmisi mekanik terdiri dari poros pada bagian turbin, poros pada bagian generator, plummer block dan bearing set, kopling, pulley dan flat belt. Komponen-komponen tersebut harus dipasang dengan tepat dan mendapat perawatan yang baik saat dioperasikan.

2.2.1 Kopling Turbin dan Generator
Kopling yang digunakan adalah jenis kopling fleksible tipe FCL. Kopling fleksibel yang digunakan di PLTMH berfungsi mentransmisikan torsi dari poros penggerak ke poros lain yang digerakan. Kopling fleksibel masih dapat mengijinkan “missalignment” (ketidak lurusan sumbu) antar poros yang tidak dapat dihindari. Kopling fleksibel yang digunakan adalah tipe FCL 280 pada sisi turbin dan FCL 250 pada sisi generator.

2.2.1.1 Komponen Kopling
Konstruksi kopling FNU cukup sederhana sebagaimana ditunjukkan pada gambar 2. Kopling ini mudah dipasang, mudah dilepas dan bebas pemeliharaan. Flange kopling dipasang pada poros transmisi. Flange tersebut diperkuat dengan pasak. Pemasangan kopling fleksible ini menggunakan baut-baut yang dilengkapi dengan Bolt bushing. bushing dibuat dari material Cast iron yang dapat mentolerir sedikit “misalignment” angular atau paralel antara dua poros flange.

2.2.1.2 Pemasangan Kopling
Flange kopling dipasang pada tiap-tiap poros yang akan dihubungkan. Prosedur pemasangan kopling harus memperhatikan spesifikasi toleransi yang dikeluarkan oleh pabrik (dapat dilihat pada brosur/katalog produk).

♦ Pemasangan dua hub flange kopling
a. Letakkan poros pulley pada plummer block-housing base.
b. Atur posisi poros pulley terhadap pasangan flange sehingga kedua flange hampir melekat.
c. Lakukan alignment terutama terhadap paralel alignment dan jarak antara kedua flange (spesifikasi dapat dilihat pada sub-bab kopling dan katalog produk)
d. Pasang rubber bushing dan baut pada flange kopling kemudian kencangkan semua mur kopling
e. Putarlah poros perlahan-lahan untuk melihat dan memastikan kondisi “alignment” kopling.
f. Jika diperlukan dapat menggunakan plat tipis untuk mengatur dudukan plummer block bearing sehingga alignment poros dapat tercapai. Plat ini harus disisipkan di bawah plummer block base.

2.2.1.3 Pemeliharaan Kopling
Alignment angular dan alignment paralel harus diperiksa setelah pemasangan. Toleransi alignment kopling FNU 280 dan FNU 250 adalah 0,2 – 0,3 mm untuk alignment paralel dan pergeseran sudut 1o30 untuk alignment angular. Kesalahan alignment lebih besar dari batas toleransi tersebut akan menyebabkan pengurangan efisiensi dan umur rubber bushing. Celah antara flens kopling harus dijaga (2-4 mm) untuk memberikan ruang gerak poros (error end shaft) sebagaimana ditunjukkan pada gambar 3. Flange kopling yang rapat akan menyebabkan poros yang terhubung tidak bebas bergerak sehingga flange kopling akan saling bergesek sehingga cepat rusak, disamping merupakan sumber vibrasi yang mengganggu bearing. Untuk pengecekan alignment sebaiknya dibantu dial indikator dan filler gauge.

Pemeliharaan rutin kopling biasanya berupa penggantian karet bushing apabila telah rusak. Kopling Flender Nuefex A 280 dan FNU 250. Selama “misalignment” dijaga dalam batas-batas toleransi kopling akan beroperasi pada efisiensi terbaik dan akan memiliki masa pakai yang lebih lama paling tidak selama satu tahun.

Kondisi pemasangan kopling perlu diperiksa paling tidak satu kali dalam satu bulan. Lakukan penyesuaian/perbaikan apabila ada perubahan kondisi kopling dari yang seharusnya. Pada saat yang sama, kondisi karet bushing dan baut-mur harus diperiksa. Penggantian komponen-komponen kopling yang rusak harus dilakukan sesegera mungkin.

2.2.2 Bearing
Semua poros yang beroperasi ditumpu oleh bearing. Poros yang ditumpu oleh bearing dapat berputar bebas dengan koefisien gesek kecil dan dapat berada pada posisi yang tepat meskipun mendapat gangguan dari berbagai gaya lain yang mengenainya. Beragam macam bearing dapat ditemukan di pasaran dengan disain standar seperti: bearing SKF, bearing FAG atau bearing NTN. Pada sistem mekanik turbin digunakan spherical roller bearing untuk menopang poros runner turbin dan poros pulley.

2.2.2.1 Spherical roller bearing,
Spherical roller bearing sudah banyak dikenal karena kemampuannya menopang beban yang berat. Bearing ini terdiri dari dua baris bola-bola berbentuk barrel simetris yang dapat mensejajarkan diri dengan bebas sehingga masih mampu mentolerir adanya pergeseran poros dan misalignment poros bearing. Spherical roller bearing dapat mentolerir misalignment 0,5o. Pada beban ringan, misalignment sampai 2o masih diperbolehkan.

Turbin Crossflow T15 menggunakan spherical roller bearing ditambah adapter sleeve. Bearing dengan nomor kode 22216, adapter sleeve H316, locating ring FRB 12.5/140, two-lip seal TSN 516 G dan plummer block SNL 516.613 digunakan pada poros pulley turbin. Sedangkan bearing SKF 22211, adapter sleeve H311, locating ring FRB 8/100, digunakan untuk menopang poros runner generator. Untuk menopang poros runner turbin digunakan bearing SKF 22218, adapter sleeve H318, locating ring FRB 12.5/160.

Sebagaimana disebutkan di atas, bearing melakukan sendiri alignment sehingga tidak sensitif terhadap kesalahan kecil alignment poros terhadap rumah bearing.

2.2.2.2 Adaptor sleeve, lock nut and locking washer
Adaptor sleeves digunakan untuk melindungi tapered bore bearing terhadap dudukan poros silindris. Adaptor sleeves mempermudah pemasangan dan pembukaan bearing. Apabila locking nut diperkuat, bearing di dalam outer ring akan didesak sedemikian hingga mempererat poros dalam bearing.

2.2.2.3 Plummer block housing
Plummer block housings, disebut juga rumah bearing, terdiri dari dua bagian (housing base dan housing cover) yang terbuat dari besi cor. Pada setiap pasangan plummer block terdapat pin untuk memastikan bagian bawah dan bagian atas komponen terpasang dengan tepat. Bagian bawah dan bagian atas komponen merupakan satu unit yang tidak dapat saling dipertukarkan dengan bagian komponen lain meskipun ukurannya sama. Setiap pasangan memiliki nomor seri yang saling bersesuaian sebagai tanda. Saluran pelumas disediakan pada bagian atas plummer block untuk mempermudah pelumasan.

2.2.2.4 Locating ring
Locating ring dapat disisipkan pada setiap sisi bearing sehingga posisi bearing akan tetap berada di tengah-tengah housing bearing (centering). Untuk memastikan bearing tidak menjadi terlalu panas dan untuk meminimumkan gaya aksial maka locating ring harus dipasang pada posisi yang tepat di dalam housing bearing.

2.2.2.5 Two-lip seal
Penyekatan paling mudah pada housing bearing adalah menggunakan two-lip seal yang cocok untuk kecepatan perimeter sampai 13 m/s. Two-lip seal meluncur pada poros yang berputar. Bagian luar two-lip seal mencegah kotoran masuk ke dalam bearing. Pelumas yang diisi di antara two-lip seal juga mencegah bearing dari kemasukan kotoran. Sedangkan bagian dalam two-lip seal mencegah kebocoran pelumas dari dalam housing.

Two-lip seal terbuat dari polyurethane, material yang tahan gesekan dengan sifat elastik yang sangat baik. Komponen ini cocok untuk temperatur sampai dengan 100oC. Misalignment angular sampai dengan 10 masih dapat ditolerir. Ruang di antara two-lip seal harus diisi dengan pelumas sejak pertama kali dipasang.

2.2.2.6 Pelumasan Bearing
Pelumasan merupakan persyaratan penting bagi bearing karena:
a. Dapat mengurangi gesekan dan keausan
b. Dapat menjaga bearing beroperasi dengan efisiensi tinggi
c. Dapat memperpanjang umur pakai bearing
d. Dapat mencegah terjadinya pengkaratan
e. Dapat mencegah kotoran masuk ke dalam bearing

Pada umumnya bearing menggunakan grease/gemuk sebagai media pelumasan. Hal yang perlu diperhatikan adalah pemilihan grease yang tepat dan cara pengisian grease. Grease untuk pelumasan terdiri dari sabun metalik atau material lain yang bahan dasarnya litium. Sebaiknya grease yang satu tidak dicampur dengan grease lainnya yang berbeda jenis dan kekentalannya. Jumlah grease yang digunakan dalam bearing tergantung pada desain housing bearing. Grease yang berlebihan tidak menimbulkan masalah pada kecepatan rendah, tetapi pada kecepatan sedang atau tinggi dapat menimbulkan panas, pelunakan, perubahan kualitas dan kebocoran grease pada bearing. Jumlah grease yang tepat digunakan dalam bearing berkisar antara 40% - 60% dari ruang dalam rumah bearing yang bebas.

Masa pakai grease bervariasi bergantung pada jenis, ukuran, kondisi operasi dan temperatur bearing. Masa pakai grease juga dipengaruhi oleh kelembaban, gas dan material asing yang masuk ke dalam grease. Sebagai referensi, temperatur rumah bearing maksimum 70oC sebagai dasar perhitungan interval penambahan pelumas. Apabila temperatur operasi meningkat maka interval waktu pelumasan harus dikurangi.
Halaman 8

2.2.2.7 Pemasangan Bearing
a. Persiapan
Salah satu hal yang perlu dipersiapkan adalah tempat pemasangan bearing yang kering, bersih, bebas dari debu/kotoran. Sebelum memasang poros, housing, komponen-komponen lain bearing dan peralatan yang digunakan harus sudah dibersihkan. Bearing sebaiknya masih disimpan dalam dus aslinya tepat ketika akan dipasang. Lapisan pencegah karat pada bearing tidak perlu dibuang; demikian pula dengan sedikit pelumas yang sudah ada sebelumnya. Pada kasus khusus, yaitu bearing berukuran sangat kecil untuk kecepatan tinggi, lapisan anti karatnya perlu dibersihkan dengan cairan minyak yang bersih. Ketika melakukan pemasangan bearing disarankan menggunakan sarung tangan atau melapis tangan dengan minyak bersih karena keringat pada tangan bisa menimbulkan karat pada bearing.

b. Pemasangan Bearing
Kegagalan dan kerusakan bearing yang bersifat prematur disebabkan oleh ketidaktepatan dalam pemasangan, seperti contoh berikut ini:
- Kerusakan pada bearing akibat pemasangan mur-baut yang semakin kendur ketika bearing dioperasikan
- Kerusakan pada poros dan dudukan housing bearing akibat ketidaktepatan pemasangan komponen-komponen bagian dalam bearing
- Kerusakan bola-bola bearing karena pengencangan adapter sleeve yang terlalu ketat, sehingga bearing cepat panas.
- Penggunaan grease berlebih.
- Kotoran, geram logam yang mengotori bearing/grease

Bearing yang dipasang pada dudukan adapter sleeve dapat diatur dengan melakukan penyesuaian pada lock nut. Hal ini harus dilakukan hati-hati agar bearing pada kedudukan yang tepat sehingga masih ada cukup ruang (clearance) di dalam bearing.
Penempatan spherical roller bearing yang tepat dapat dilihat dari seberapa besar ruang (clearance) yang masih tersedia dalam bearing. Minimum clearance bearing antara 0.025 – 0.035 mm. Ruang tersebut diukur dari outer ring ke roller yang tidak dibebani. Untuk pengukuran clearance secara akurat dapat digunakan feeler gauge ketika penyesuaian spherical roller bearing dilakukan.

c. Pemasangan plummer block housing (rumah bearing)
Beban yang diperbolehkan pada bearing bukan hanya bergantung pada kemampuan bearing tetapi juga bergantung pada kekuatan housing dan baut-mur yang digunakan. Pada PLTMH , untuk memperkuat pemasangan baut-mur housing turbin dapat digunakan alat yang disebut torsi yang diset pada kekuatan 180 Nm untuk baut-mur M18.

Salah satu prosedur pemasangan housing bearing yang perlu dicermati adalah pemasangan bagian atas dan bagian bawah housing. Kedua bagian ini merupakan satu unit yang tidak dapat saling dipertukarkan dengan bagian komponen lain meskipun ukurannya sama. Pada housing terdapat nomer seri dan pin untuk memastikan bagian bawah dan bagian atas housing terpasang dengan tepat.

2.2.2.8 Pemeliharaan Bearing
Ketika beroperasi suara dari bearing harus terdengar halus. Apabila terdengar suara gemerisik atau agak kasar dapat diperkirakan ada ketidakberesan pada bearing. Temperatur operasi bearing harus kurang dari 700C untuk memperpanjang masa operasi bearing. Permeriksaan temperatur bearing dapat dilakukan dengan menggunakan termometer atau dengan disentuh oleh tangan. Apabila tangan masih dapat menyentuh bearing dalam beberapa detik tanpa rasa sakit yang berlebihan maka dapat diperkirakan temperatur bearing masih di bawah 700C. Pengujian suara dan panas bearing perlu dilakukan secara rutin paling tidak satu minggu sekali.

Pelumasan bearing secara tepat merupakan bagian penting dari prinsip operasi bebas gangguan. Sekitar 36% kegagalan bearing secara prematur karena kekeliruan dalam pemilihan dan penggunaan pelumas pada bearing. Bearing menggunakan pelumas jenis LGMT 3 SKF. Pelumas ini merupakan minyak mineral dari sabun litium yang memiliki masa pakai sangat lama, stabilitas oksidasi dan mekanik sangat baik, resistansi terhadap air sangat baik dan kemampuan pencegahan terhadap karat sangat baik pula. Grease SKF: LGMT 3 mempunyai rentang temperatur operasi dari –300C sampai 1200C. Viskositas pelumas pada temperatur 40oC sekitar 120 – 130 mm2/s. Pemberian kembali pelumas pada bearing yang menopang poros turbin dapat dilakukan setiap 2500 jam sebanyak 32 gram. Sedangkan untuk bearing yang menopang poros pulley pada sisi turbin pemberian pelumas perlu dilakukan setiap 4000 jam operasi sebanyak 20 gram. Pada bearing pulley generator penambahan pelumas dilakukan setiap 1500 jam operasi sebanyak 20 gram. Setelah tiga kali pemberian ulang pelumas, bearing perlu dibuka dan dibersihkan menggunakan minyak sebelum diisi kembali dengan pelumas yang baru.

Perlu diperhatikan ketika memberi pelumas awal pada bearing tidak boleh terlalu banyak karena dapat mengakibatkan panas berlebih pada bearing. Pelumas sebaiknya dijaga agar tetap bersih dan tidak terkotori debu atau benda-benda lainnya. Sekitar 14% dari kerusakan bearing secara prematur karena adanya kontaminasi pelumas yang digunakan.

2.2.3 Pulley
Pulley yang digunakan dalam sistem transmisi mekanik PLTMH dirancang untuk menaikkan kecepatan dari 625 rpm pada poros turbin menjadi 1500 rpm pada poros generator. Diameter nominal pulley pada sisi turbin adalah 1190 mm dan pada sisi generator 400 mm. Lebar kedua pulley adalah 180 mm sedangkan lebar flat belt penghubung kedua pulley tersebut 100 mm. Material yang digunakan untuk membuat pulley adalah mild steel SS 400/St 37.
Pulley yang lebih besar (pada sisi turbin) juga mempunyai fungsi sebagai flywheel (roda gila) untuk menstabilkan putaran turbin meskipun ada sedikit peningkatan atau pengurangan kecepatan ketika beroperasi. Pulley perlu dibersihkan sehingga bebas dari kotoran debu, minyak atau grease serta perlu dipasang pada posisi lurus satu sama lain agar flat belt dapat mentransmisikan daya dengan efisiensi yang cukup tinggi.

2.2.3.1 Pemasangan pulley
♦ Pasanglah bagian bawah plummer block housing base pada base frame. Kemudian pasanglah mur-baut pada komponen ini dengan tidak terlalu kuat. Selanjutnya isilah ruang pada bagian bawah plummer block tersebut dengan pelumas (grease).
♦ Pasanglah bearing pada poros pulley. Kemudian tempatkan flat belt melingkari poros pulley.
♦ Letakkan poros pulley dan bearing pada plummer block base yang telah dipasang sebelumnya. Pastikan tidak ada kotoran pada bearing dan plummer block sebelum diisi dengan grease.
♦ Aturlah alignment poros menurut spesifikasi kopling fleksible yang digunakan. Setelah kedudukan poros tepat, perkuatlah baut-mur bagian bawah plummer block untuk mempertahankan posisi poros tersebut. Aturlah lock nut bearing dengan hati-hati untuk mendudukkan poros dengan tepat pada bearing. Pastikan ruang dalam bearing (internal clearance) masih dalam batas-batas toleransi yang diperbolehkan. Untuk memperoleh pengaturan ruang dalam bearing (internal clearance) dengan baik dapat menggunakan feeler gauge.
♦ Bersihkan plummer block bagian atas dan isilah dengan grease secukupnya. Pasanglah bagian atas plummer block tersebut kemudian perkuat kedudukannya dengan baut-mur. Pastikan jumlah grease dalam plummer block hanya sekitar 40% – 60 % dari ruang yang tersedia.
♦ Perkuat baut-mur pada plummer block secara perlahan-lahan. Pada saat yang sama aturlah flange kopling sehingga poros pulley align dengan poros pasangannya.
♦ Plat tipis bilamana perlu dapat digunakan untuk memastikan alignment poros pada pemasangan kopling.

2.2.4 Belt
Belt dioperasikan berdasarkan prinsip gesekan dengan permukaan pulley. Keregangan belt disesuaikan dengan batas tegangan yang diperbolehkan.
Belt yang digunakan pada transmisi mekanik adalah jenis flat belt merek SIEGLING EXTREMULTUS, tipe GT 54, ukuran 5115 x 100 mm, endless. Flat belt ini dapat beroperasi dengan efisiensi 98%. Suara yang ditimbulkan flat belt ini ketika beroperasi dengan kecepatan tinggi cukup keras tetapi tidak terlalu bising.

2.2.4.1 Pemasangan Flat Belt
Pasanglah flat belt berdasarkan prosedur berikut ini.
1. Tempatkan flat belt pada pulley.
2. Aturlah kelurusan kedua pulley menggunakan benang, nilon atau yang lainnya. Pengaturan posisi pulley dilakukan dengan cara mengatur posisi dudukan generator pada base frame. Hal ini karena generator terhubung dengan salah satu pulley tersebut.
3. Aturlah posisi pulley sedemikian hingga tegangan yang terjadi pada flat belt merupakan tegangan normal. Buatlah tanda pada flat belt dan ukurlah jarak antara kedua tanda tersebut. Sebagai contoh, jarak kedua tanda tersebut 1000 mm.
4. Flat belt mempunyai toleransi pertambahan panjang maksimum 2% dari panjang dalam keadaan normal. Untuk itu dapat dilakukan pemeriksaan pertambahan panjang flat belt setelah tensioner dikencangkan dengan cara mengukur jarak dua tanda pada flat belt. Sebagai contoh, pertambahan panjang tidak boleh lebih dari 1020 mm apabila panjang dalam keadaan normal 1000 mm.
5. Tepat sebelum dioperasikan kelurusan pulley harus diperiksa kembali. Cobalah pulley diputar menggunakan tangan untuk memastikan posisi flat belt sudah benar. Apabila kedudukan pulley tidak benar, maka belt cenderung lari pada arah luar pulley, atur posisi pulley sehingga belt berputar stabli tidak lari ke arah luar.

2.2.4.2 Perawatan Flat Belt
Untuk mendapatkan kinerja yang terbaik flat belt beberapa hal yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut.
a. Bersihkan flat belt dari segala macam kotoran dan keringkan apabila basah.
b. Apabila kendur atau terlalu keras, perbaiki tegangan flat belt hingga pada tegangan normalnya
c. Periksalah juga kelurusan pulley

Minyak atau air pada flat belt dapat menyebabkan slip. Ketegangan flat belt yang tidak sesuai dan ketidaklurusan pulley dapat menurunkan efisiensi hingga 70%.

Flat belt yang terbuat dari kanvas cenderung dapat dipengaruhi oleh keadaan temperatur udara. Apabila temperatur udara rendah (dingin) flat belt dapat memendek (mengerut) sebaliknya apabila temperatur udara tinggi (panas) flat belt cenderung memuai (memanjang). Hal ini perlu diperhatikan oleh operator PLTMH khususnya jika udara bertemperatur dingin atau panas dalam jangka waktu yang lama.

Jika suatu saat flat belt harus diganti karena rusak, maka sebelum dilepas sebaiknya posisi flat belt dan pulley ditandai sehingga memudahkan pekerjaan pemasangan kembali.

Catatan:
a. Jika kedua pulley tidak dalam kondisi lurus maka flat belt bisa terlepas dari masing-masing pulley.
b. Jika kedua pulley tidak dalam kondisi lurus maka flat belt bisa juga mengalami kerusakan
c. Tegangan pada flat belt mengakibatkan adanya beban radial pada poros yang harus ditahan oleh bearing. Apabila tegangan pada flat belt terlalu kencang maka bearing dapat menjadi terlalu panas. Untuk itu periksalah kondisi flat belt dan bearing setelah beberapa waktu beroperasi.

3 PEMASANGAN DAN PEMELIHARAAN GENERATOR
Generator berfungsi untuk mengubah energi mekanik menjadi energi listrik. Energi mekanik ini dikonversi menggunakan media medan magnet. Komponen utama generator terdiri dari bagian berputar yang disebut rotor dan bagian tidak berputar yang disebut stator.
Generator yang digunakan pada PLTMH bermerek Stamford UCI 224 G2 Double Bearing, Serial Number X04D140199, Rating 220 kVA. yang akan diinstal bersama dengan turbin Crossflow T15. Generator ditempatkan pada base frame yang sama dengan turbin Crossflow T15. Generator tersebut dapat diatur posisinya untuk mendapatkan posisi pulley yang tepat.
Generator dihubungkan dengan pulley melalui sebuah fleksibel kopling. Oleh karena itu perlu diperhatikan alignment posisi kopling tersebut untuk mendapatkan kinerja yang terbaik.

3.1 Pemasangan generator
♦ Tempatkan flange kopling pada ujung poros generator menggunakan pasak.
♦ Pasang base frame generator pada tbase frame turbin.
♦ Letakkan generator pada base frame yang tersedia.
♦ Tempatkan poros pulley (sisi generator) pada bearing. Prosedur selanjutnya lihat cara pemasangan poros pulley di atas.
♦ Pastikan alignment flange kopling yang menghubungkan poros generator dan poros pulley.
♦ Kencangkan baut-mur kopling poros generator dan pulley
♦ Tempatkan flat belt pada kedua pulley
♦ Aturlah ketegangan flat belt dengan mengatur posisi dudukan generator pada base frame.
♦ Pasanglah ram kawat pelindung pulley untuk keamanan ketika beroperasi.
♦ Petunjuk rinci mengenai pemasangan kopling, pulley dan flat belt telah dijelaskan di atas.

3.2 Pemeliharaan
Petunjuk operasi dan pemeliharaan generator dapat dilihat pada katalog/brosur yang dikeluarkan oleh pabrik pembuatnya.

4 PENGOPERASIAN SISTEM TURBIN CROSSFLOW T15
Turbin Crossflow T15 PLTMH dirancang beroperasi pada kecepatan 625 rpm untuk mentransmisikan daya ke generator yang beroperasi pada kecepatan 1500 rpm. Kecepatan run away turbin tersebut sekitar 1.8 kali kecepatan nominalnya.

Sebelum turbin dioperasikan ketersediaan air perlu diperiksa kembali. Keadaan saluran pembawa, bak penenang dan saringan sampah juga perlu diperiksa. Pulley dan flat belt perlu coba diputar perlahan-lahan untuk memastikan apakah pemasangannya sudah benar. Posisi guide vane turbin juga perlu dipastikan dalam keadaan tertutup rapat. Tekanan yang terbaca pada pressure gauge tepat sebelum beroperasi harus menunjukkan angka yang bersesuaian dengan beda tinggi permukaan air di bak penenang ke turbin.

Guide vane turbin harus dibuka perlahan-lahan sambil memperhatikan tekanan air yang terbaca pada pressure gauge. Jika tekanan air mengalami penurunan di bawah nilai nominal (tekanan sebelum dioperasikan) ada kemungkinan air yang tersedia tidak mencukupi.

Bukaan guide vane dapat mengatur jumlah air yang memasuki turbin. Turbin sebaiknya dioperasikan pada bukaan guide vane optimum untuk mendapatkan kinerja terbaik. Bukaan guide vane maksimum memang dapat menghasilkan daya keluaran maksimum. Tetapi pada keadaan ini, air pada turbin dapat mengalami turbulensi, suara yang keras dan getaran yang lebih kuat yang dapat memperpendek masa pakai turbin. Bukaan optimum guide vane sekitar 80% bukaan, perhatikan indikator pada guide vane.

Perhatikan dengan baik suara turbin ketika beroperasi. Suara turbin yang normal harus lembut tidak tersentak-sentak. Temperatur bearing dan generator juga perlu diperiksa untuk memastikan sistem bekerja dengan baik.

Untuk menghentikan turbin, guide vane ditutup secara perlahan-lahan sambil memperhatikan keadaan tekanan air pada pressure gauge. Tekanan pada pressure gauge tidak boleh berubah-ubah terlalu cepat untuk menghindari water hammer.

Urutan Pengoperasian PLTMH

1. Periksa kondisi air di Bak (Head Tank).
♦ Pastikan Pintu Air Bak telah terbuka, dan air dari saluran memasuki Bak (Head Tank).
♦ Pastikan Air di Bak (Head Tank) telah penuh dan melimpas.
♦ Periksa pintu air pipa pesat (penstock dalam keadaan terbuka penuh.
♦ Pastikan air telah mengisi penuh pipa pesat (penstock), bila pipa pesat belum terisi, buka pintu air pipa pesat secara perlahan-lahan. Bila tekanan air telah keluar dari pipa napas, berarti pipa pesat telah terisi penuh air.

2. Pengoperasian Turbin
♦ Pastikan inlet valve dalam keadaan tertutup (fully close).
♦ Buka inlet valve secara perlahan-lahan, sampai pipa adapter turbin terisi penuh air. Pada saat pembukaan inlet valve akan terdengar aliran air mendesis. Apabila suara aliran air berhenti, berarti air telah mengisi adapter pipe.
♦ Buka katup pressure gauge, pastikan jarum menunjuk angka 6 bar (kgf/cm2).
♦ Buka guide vane turbin perlahan-lahan sampai putaran turbin – generator mencapai tegangan nominal. (prosedur pengoperasian panel kontrol dapat dibaca pada manual operasi ELC).
♦ Buka guide vane turbin sampai tegangan balast minimum sebesar 100 – 120 V.
♦ Sambungkan sistem ke jaringan.
♦ Perhatikan tegangan ballast, buka kembali guide vane sehingga tegangan ballast cadangan berkisar 60 V.
♦ Perhatikan indikator jrum pressure gauge saat melakukan pembukaan guide vane turbin. Apabila jarum guide vane turun dari 6 bar, tutup kembali guide vane secara perlahan, sehingga tekanan pressure tetap 6 bar.

3. Menutup operasi turbin
♦ Lakukan urutan penghentian operasi ELC.
♦ Setelah seluruh daya dikompensasi ke Ballast, tutup guide vane turbin secara perlahan sehingga sistem akan berhenti.
♦ Setelah guide vane turbin tertutup penuh (fully close), tutup inlet valve.
♦ Aliran air akan melimpas ke saluran pelimpasan.
♦ Atur bukaan pintu air utama bak sehingga air terbagi pada saluran buang atas, untuk mengurangi debit air yang terbuang melalui saluran pelimpas.
Distribusi Perencanaan PLTMH
Distribusi

Sistem transmisi dan distribusi perencanaan PLTMH tidak menggunakan transformer untuk menaikkan dan menurunkan tegangan. Jarak transmisi dan distribusi s.d maksimum 3 km masih memungkinkan tanpa transformer. Losses sepanjang transmisi dan distribusi diasumsikan maksimum 5%. Sistem transmisi menggunakan tegangan 220 V/380 V
Untuk mencapai kondisi tersebut, maka digunakan kabel transmisi utama 3 phasa Twisted AI 4 x 70 mm2 . Kabel distribusi digunakan Twisted AI 4 x 35 mm2 , dan kabel koneksi ke konsumen menggunakan Twisted AI 2 x 10 mm2. Setiap sambungan rumah menggunakan pembatas arus 0.5 A untuk membatasi penggunaan beban berlebih.
Untuk instalasi rumah digunakan kabel NYM 2 x 1,5 mm2 dan NYM 3 x 1,5 MM2. Setiap intalasi rumah dilengkapi 3 lampu, 1 saklar double, 1 saklar tunggal, dan 1 stop kontak.
Rumah Pembangkit
Rumah pembangkitan yang merupakan titik pusat pembangkitan direncanakan dengan ukuran 3 x 4 m atau 4 x 4 m tergantung kondisi dilapangan. Pada rumah pembangkit ini akan ditempatkan peralatan elektrilkal - mekanik yang terdiri dari:
• Turbin dan sistem mekanik
• Generator
• Panel kontrol
• Ballast Load
• Tempat peralatan/tools
Rumah pembangkit dilengkapi dengan pengamanan terhadap petir dan arus berlebih (lightning arrester). Rumah pembangkit berupa pasangan bata dengan bangunan coran bertulang pada pondasi turbin dan penampungan air di bawah turbin sebelum keluar ke tail race.
Hal utama yang menjadi perhatian dalam pembangunan rumah pembangkit adalah aksasibilitas dan sirkulasi udara untuk melepas panas pada ballast load. Sirkulasi udara yang baik akan menjaga temperatur kerja sekitar rumah pembangkit tidak berlebih, sehingga temperatur kerja mesin dapat dijaga dengan baik.
~ Perencanaan Sipil PLTMH
Perencanaan Sipil

• Saluran penghantar (head race)
Saluran penghantar berfungsi untuk mengalirkan air dari intake sampai ke bak penenang. Perencanaan saluran penghantar berdasarkan pada kriteria:
• Nilai ekonomis yang tinggi
• Efisiensi fungsi
• Aman terhadap tinjauan teknis
• Mudah pengerjaannya
• Mudah pemetiharaannya
• Struktur bangunan yang memadai
• Kehilangan tinggi tekan (head losses) yang kecil
Perencanaan hidrolis
Dimensi saluran dihitung menggunakan formula untuk perhitungan aliran seragam (uniform flow) pada saluran terbuka. Proses perencanaan hidrolis saluran pembawa dilakukan menggunakan software engineering hydraulic Flow Pro. 2. Pada perencanaan ini ditetapkan slope saluran pembawa sebesar 0.001 dengan koefisien Manning 0.012.

1. Kecepatan aliran
Kecepatan aliran pada saluran penghantar direncanakan sedemikian rupa untuk mencegah sedimentasi akibat kecepatan rendah maupun pengerusan tanah akibat kecepatan tinggi. Kecepatan aliran yang diCiinkan dalam saluran ditetapkan dengan asumsi ukuran butir material sedimen 0.2 - 0.3 mm
Kecepatan aliran yang diijinkan pada perencanaan ini adalah :
• Kecepatan maksimum : 2 m/det, saluran pasangan batu tanpa plesteran
• Kecepatan minimum : 0.3 m/det, saluran pasangan batu plesteran
0.5 m/det, saluran tanpa pasangan/plesteran
Kecepatan rata aliran yang diijinkan pada perencanaan ini berkisar 0.5 - 0.7 m/det.
Tabe15.1 Perhitungan Saluran Pembawa, Flow Pro 2
U-SHAPED CHANNEL
SI Units
U-shaped Channel
Discharge Diameter Manning's n Slope Control Depth
0.75 1.2 0.012 0.001 1,000
Normal Depth XSee Area Crit. Depth XSec Area Flow Type
0,546 0,656 0,342 0,410 Subcritical
Distance Depth Energy Area Velocity
36,900 0,970 0,991 1,164 0,644
74,486 0,940 0,962 1,128 0,665
112,876 0,909 0,934 1,091 0,687
150,000 0,881 0,907 1,057 0,709
• Bak penenang dan pengendap (head tank)
Konstruksi bak penenang dalam perencanaan ini adalah sebagaimana ditampilkan pada gambar 5.4. Perhitungan dimensi bak penenang dilakukan dengan beberapa kriteria, yaitu :
• Volume bak 10 - 20 kali debit yang masuk untuk menjamin aliran steady di pipa pesat dan mampu meredam tekanan balik pada saat penutupan aliran di pipa pesat.
• Bak penenang direncanakan dengan menetapkan kecepatan vertikal partikel sedimer 0.03 m/det.
• Pipa pesat ditempatkan 15 cm di atas dasar bak penenang untuk menghindarkan masuknya batu atau benda-benda yang tidak diijinkan terbawa memasuki turbin, karena berpotensi merusak runner turbin.
• Pipa pesat ditempatkan pada jarak minimum 4 x D (diameter pipa pesat) dari muka air untuk menjamin tidak terjadi turbulensi dan pusaran yang memungkinkan masuknya udara bersama aliran air di dalam pipa pesat
• Bak penenang dilengkapi trash rack untuk mencegah sampah dan benda-benda yang tidak diinginkan memasuki pipa pesat bersama aliran air.
• Pipa penguras ditempatkan di bak pengendap dan bak penenang sebagai kelengkapan untuk perawatan (pembuangan endapan sedimen).
• Bak penenang diiengkapi pelimpas yang direncanakan untuk membuang kelebihan debit pada saat banjir. Bangunan bak penenang dan saluran pembawa direncanakan terjaga ketinggian permukaan pada saat banjir sampai maksimum 25% dari debit desain.
• Konstruksi bak penenang dan pengendap berupa pasangan batu diplester dengan dasar bak berupa cor-an beton tumbuk (tanpa tulangan) kedap air.
• Pipa pesat (penstock)
Pipa pesat (penstock) adalah pipa yang yang berfungsi untuk mengalirkan air dari bak penenang (forebay tank). Perencanaan pipa pesat mencakup pemilihan material, diameter penstock, tebal dan jenis sambungan (coordination point). Pemilihan material berdasarkan pertimbangan kondisi operasi, aksesibility, berat, sistem penyambungan dan biaya. Diameter pipa pesat dipilih dengan pertimbangan keamanan, kemudahan proses pembuatan, ketersediaan material dan tingkat rugirugi (fiction losses) seminimal mungkin. Ketebalan penstock dipilih untuk menahan tekanan hidrolik dan surge pressure yang dapat terjadi.
• Pemilihan pipa pesat
Data dan asumsi awal perhitungan pipa pesat:
• Material pipa pesat menggunakan plat baja diroll dan dilas (welded rolled steel. Hat ini dipilih sebagai alternatif terbaik untuk mendaotkan biaya terkecil. Material yang digunakan adalah mild steel (St 37) dengan kekuatan cukup.
• Head losses pada sistem pemipaan (penstock) diasumsikan sekitar 4% terhadap head gross.
• Diameter pipa pesat
Diameter minimum pipa pesat dapat dihitung dengan persamaan
D=( 10.3 n 2 Q 2 L / hf ) 0.1875
Di mana:
n = koefisien kekasaran (roughness) untuk welded steel, 0.012
Q = debit desain sebesar m 3 /S
L = panjang penstock, m
H = tinggi jatuhan air (gross head), m
Tabel 5. 2 Material Pipa Pesat
Material Young's modulus
of elasticity
E (N/m 2 )E9 linear expansion
a (n/m QC)E6 Ultimate
tensile strength
(N/m 2 )E6 N
Weleded steel 206 12 400 0.012
Polyethylene 0.55 140 5 0.009
Polyvinyl chloride (PVC) 2.75 54 13 3,009
Asbestos cenent n.a 8.1 na 0.011
Cast iron 78.5 10 140 0.014
Dutiie iron 16,7 11 340 0.015
• Tebal plat
Perhitungan tebal plat dapat menggunakan persamaan
tp = (P i .D/ 2sf.Kf)+ts
dimana :
ts = adalah penambahan ketebalan pipa untuk faktor korosi
P1 = tekanan hidrostatik, kNi P mm 2
D = diameter dalam pipa
Kf = faktor pehgelasan sebesar 0.9 untuk pengelasan dengan inspeksi x-ray faktor pengelasan sebesar 0.8 untuk pengelasan biasa
sf = desaintegangan pipa yang diijinkan
Pendekatan paling sederhana menggunakan rekomendasi ASME untuk tebal penstock minimum (mm) adalah 2,5 kali diameter pipa (m) di tambah 1,2 mm.
t min = 2.5D + 1.2 mm
Rekomendasi lain adalah
t min =(D+508)/1400
• Waterhammer
Pada saat penutupan inlet valve dapat terjadi tekanan gelombang aliran air di dalam pipa yang dikenal sebagai waterhammer. Tekanan baiik akibat tertahannya aliran air oleh penutupan katup akan berinteraksi dengan tekanan air yang menuju inlet valve sehingga terjadi tekanan tinggi yang dapat merusak penstock. Besarnya tekanan tersebut dipengaruhi oleh faktor
• Kecepatan gelombang tekanan ( pressure wave speed ), c yang besarnya
C= [ 10 -3 K/(1+ KD/Et)] 0.5
Dimana :
K = modulus bulk air, 2.1 x 10' N/m 2
E = modulus elastilk material, untuk welded steel 2.1 x 11C N/m 2
D = diameter pipa (mm)
t = tebal pipa (mm)
• Surge pressure pada pipa, Ps (m kolom air)
P S = c.?V/g
di mana :
?V = kecepatan aliran air didalam pilpa adalah 4Q/ ? D 2
g = percepatan gravitasi m/det 2
Tekanan total (tekanan kritis) di dalam pipa adalah sebesar, Pc:
Pc = PO + PS
= (0.96 Hgross) + PS
dimana Po adalah tekanan hidrostatik dalam pipa dengan asumsi headloss 4% Sementara itu tegangan yang terjadi pada dinding pipa adalah
s = Pc. D/2.t
Tegangan pada dinding pipa tersebut dibandingkan dengan kekuatan tarik material dan tegangan yang diijinkan. Apabila tegangan pada dinding pipa lebih besar maka penentuan diameter dan ketebalan pipa diulang (iterasi) sampai diperoleh kondisi yang aman. Perhitungan rinci kekuatan dan keamanan pipa dilampirkan pada setiap lokasi rencana pengembangan PLTMH.
• Tumpuan pipa pesat (saddles support)
Tumpuan pipa pesat, baik pondasi anchor block, saddle support, berfungsi untuk mengikat dan menahan penstock. Jarak antar tumpuan (L) ditentukan oleh besarnya defleksi maksimum penstock yang diijinkan. Jarak maksimum dudukan pondasi penstok dapat dihitung dengan formula:
L = 182.61 x {[(D + 0.0147) 4 - D 4 ]/ p} 0.333
Dimana.
D = diameter dalam penstock (m)
P = berat satuan dalam keadaan penuh berisi air (kg/m).
Berat satuan pipa pesat dihitung dengan formula
W pipa = ? D x t x l x ?baja
Di mana
W pipa = kg 1 m pipa pesat
D = diameter pipa, m
t = tebal pipa, m
pbaja= 7860 kg/M3
Berat air di dalam pipa dihitung sebesar:
Di mana:
W air = kg 1 m pipa pesat
D = diameter pipa, m
1 = panjang pipa satuan, 1 m
p air = 1000 kg/m3
W air = 0.25nD 2 x 1 x pair
Berat satuan pipa berisi penuh air adalah, P = W pipa + W air . Pada perencanaan
PLTMH ini, jarak antar tumpuan pipa pesat rata-rata adalah 4 m,
• Rugi-rugi head (Head Losses).
Rugi-rugi head (head losses) diberikan oleh flaktor:
• Kerugian karena gesekan saat aliran air melewati trashrack
• Kerugian gesekan aliran fluida di dalam pipa
• Kerugian karena turbulensi aliran yang dipengaruhi belokan, bukaan katup, perubahan penampang aliran
Reduksi head losses dapat dilakukan dengan cara :
• Penggunaan diameter pipa yang lebih besar (harus mempertimbangkan biaya)
• Mengurangi belokan pada penstock dan pemilihan dimensi yang terbaik untukmendapatkan rugi-rugi yang kecil.
Besarnya rugi-rugi pada pipa pesat terdiri dari:
Rugi-rugi karena gesekan selama aliran didalam pipa, hfriction
Hfriction = ?.L.V 2 / 2.g.D
Di mana ;
? = koefisien gesekan berdasarkan diagram Moody, bilangan Reynolds dan koefisien kekasaran material
L = panjang penstock, m
V = kecepatan rata-rata, m/det
G = percepatan gravitasi, m/det 2
D = diameter pipa pesat, m
Persamaan empiris lainnya yang dapat digunakan untuk menghitung rugi-rugi gesekan ini adalah:
(Hf 1 L) = 10.29 n 2 Q21 D5 .333
dimana:
Hf head losses karena gesekan aliran di dalam pipa, m L panjang pipa, m n koefisien kekasaran Manning, 0.012 untuk material welded steel Q debit, m 31S
D diameter penstock, m
Kerugian karena gesekan pada aliran metalui trashrack dapat dihitung dengan formula Kirchmer sebagai berikut
t pr27sin lb 2g
dimana ;
Kt = koefisien gesekan bentuk pelat trashrack
t = tebal plat trashrack
b = jarak antar plat trashrack
Vo = kecepatan aliran air
g = percepatan gravitasi
0 = sudut jatuhan trashrack dengan horisontal
Kerugian karena turbulensi, HI
HI total. V2 1 2g
Di mana, koefisien losses, ~ total besarnya adalah
~ total = Onlet loss + ~ belokantelbow + ~inlet valve + ~reducer/difusor + ~draf'Lube
Berdasarkan perhitungan menggunakan form. ula-formula di atas, maka pada perencanaart PLTM ini ukuran pipa pesat distandarisasi untuk memudahkan aplikasi di lapangan, sebagaimana dapat dilihat di tabel 5.3. Diameter standar pipa dibuat dari plat ukuran 120 cm x 240 cm yang diroll dan dilas.
Tabel 5.3 Standard Penggunaan Pipa Pesat
Tabel 5.6 Koefisier, Kekasaran Manning beberapa material Penstock
Wdded~1 pc~yiem (M) PVC Adx~c~nt 0~kw cam hw V~-~(m,vi) CweffiM, ~ f~ m~ 1~)
(1. 01 2_ TWO 0." (1.011 (1,015 0.014: (1.012
Pelaksanaan Turbin Air

Pelaksanaan Elektrikalmekanikal

1. Pemilihan Turbin
Turbin air berperan untuk mengubah energi air (energi potensial, tekanan dan energi kinetik) menjadi energi mekanik dalam bentuk putaran poros. Putaran poros turbin ini akan diubah oleh generator menjadi tenaga listrik. Berdasarkan prinsip kerjanya , turbin air dibagi menjadi dua kelompok:
 Turbin impuls (cross-flow, pelton & turgo)
untuk jenis ini, tekanan pada setiap sisi sudu geraknya lrunnernya - bagian turbin yang berputar - sama.
 Turbin reaksi ( francis, kaplanlpropeller)
Daerah aplikasi berbagai jenis turbin air relatif spesifik. Pada beberapa daerah operasi memungkinkan digunakan beberapa jenis turbin. Pemilihan jenis turbin pada daerah operasi yang overlaping ini memerlukan perhitungan yang lebih mendalam. Pada dasarnya daerah kerja operasi turbin menurut Keller2 dikelompokkan menjadi:
Low head powerplant: dengan tinggi jatuhan air (head) :S 10 M3
Medium head power plant:: dengan tinggi jatuhan antara low head dan high-head High head power plant: dengan tinggi jatuhan air yang memenuhi persamaan
H ≥ 100 (Q)0-113
dimana, H =head, m Q = desain debit, m 31s
Secara umum hasil survey lapangan mendapatkan potensi pengembangan PLTMH dengan tinggi jatuhan (head) 6 - 60 m, yang dapat dikattegoirikan pada head rendah dan medium.
Tabel Daerah Operasi Turbin
Jenis Turbin Variasi Head, m
Kaplan dan Propeller 2 < H < 20 Francis 10 < H < 350 Peiton 50 < H < 1000 Crossfiow 6 < H < 100 Turgo 50 < H < 250 2. Kriteria Pemilihan Jenis Turbin Pemilihan jenis turbin dapat ditentukan berdasarkan kelebihan dan kekurangan dari jenis-jenis turbin, khususnya untuk suatu desain yang sangat spesifik. Pada tahap awal, pemilihan jenis turbin dapat diperhitungkan dengan mempertimbangkan parameter-parameter khusus yang mempengaruhi sistem operasi turbin, yaitu :  Faktor tinggi jatuhan air efektif (Net Head) dan debit yang akan dimanfaatkan untuk operasi turbin merupakan faktor utama yang mempengaruhi pemilihan jenis turbin, sebagai contoh : turbin pelton efektif untuk operasi pada head tinggi, sementara turbin propeller sangat efektif beroperasi pada head rendah.  Faktor daya (power) yang diinginkan berkaitan dengan head dan debit yang tersedia.  Kecepatan (putaran) turbin ang akan ditransmisikan ke generator. Sebagai contoh untuk sistem transmisi direct couple antara generator dengan turbin pada head rendah, sebuah turbin reaksi (propeller) dapat mencapai putaran yang diinginkan, sementara turbin pelton dan crossflow berputar sangat lambat (low speed) yang akan menyebabkan sistem tidak beroperasi. Ketiga faktor di atas seringkali diekspresikan sebagai "kecepatan spesifik, Ns", yang didefinisikan dengan formula: Ns = N x P0.51W .21 dimana : N = kecepatan putaran turbin, rpm P = maksimum turbin output, kW H = head efektif , m Output turbin dihitung dengan formula: P=9.81 xQxHx qt (2) dimana Q = debit air, m 3 ldetik H = efektif head, m ilt = efisiensi turbin = 0.8 - 0.85 untuk turbin pelton = 0.8 - 0.9 untuk turbin francis = 0.7 - 0.8 untuk turbin crossfiow = 0.8 - 0.9 untuk turbin propellerlkaplan Kecepatan spesifik setiap turbin memiliki kisaran (range) tertentu berdasarkan data eksperimen. Kisaran kecepatan spesifik beberapa turbin air adalah sebagai berikut: Turbin pelton 12≤Ns≤25 TurbinFrancis 60≤;Ns≤300 Turbin Crossflow 40≤Ns≤200 Turbin Propeller 250≤Ns≤ 1000 Dengan mengetahui kecepatan spesifik turbin maka perencanaan dan pemilihan jenis turbin akan menjadi lebih mudah. Beberapa formula yang dikembangkan dari data eksperimental berbagai jenis turbin dapat digunakan untuk melakukan estimasi perhitungan kecepatan spesifik turbin, yaitu : Turbin pelton (1 jet) Ns = 85.49/H0.243 (Siervo & Lugaresi, 1978) Turbin Francis Ns = 3763/H0.854 (Schweiger & Gregory, 1989) Turbin Kaplan Ns = 2283/H0.486 (Schweiger & Gregory, 1989) Turbin Crossfiow Ns = 513.25/H0.505 (Kpordze & Wamick, 1983) Turbin Propeller Ns = 2702/H0.5 (USBR, 1976) Dengan mengetahui besaran kecepatan spesifik maka dimensi dasar turbin dapat diestimasi (diperkirakan). Pada perencanaan PLTMH ini, pilihan turbin yang cocok untuk lokasi yang tersedia adalah : 1. Turbin propeller tipe open flume untuk head rendah s.d 6 m 2. Turbin crossflow 1 banki-mithell untuk head 6 m < H < 60 m. Pemilihan jenis turbin tersebut berdasarkan ketersediaian teknologi secara lokal dan biaya pembuatan/pabrikasi yang lebih murah dibandingkan tipe lainnya seperti pelton dan francis. Jenis turbin crosstlow yang dipergunakan pada perencanaart ini adalah crossfiow T-14 dengan diameter runner 0.3 m. Turbin tipe ini memiliki efisiensi maksimum yang baik sebesar 0.74 dengan efisiensi pada debit 40% masih cukup tinggi di atas 0.6. Sementara untuk penggunaan turbin propeller open flume pabrikasi lokal ditetapkan efisiensi turbin sebesar 0.75. Penggunaan kedua jenis turbin tersebut untuk pembangkit tenaga air skala mikro (PLTMH), khususnya crossfIlow T-14 telah terbukti handai di lapangan dibandingkan jenis crossfiow lainnya yang dikembangkan oleh berbagai pihak (lembaga penelitian, pabrikan, import). Putaran turbin baik propeller open flume head rendah dan turbin crossflow memiliki kecepatan yang rendah. Pada sistem mekanik turbin digunakan transmisi sabuk flatbelt dan pulley untuk menaikkan putaran sehingga sama dengan putaran generator 1500 rpm. Efisiensi sistem transmisi mekanik flat belt diperhitungkan 0.98. Sementara pada sistem transmisi mekanik turbin propeller open flume menggunakan sabuk V, dengan efisiensi 0.95. Diagram Aplikasi berbagai jenis Turbin (Head Vs Debit) Tabel Putaran Generator Sinkron (rpm) Jumlah Pole (kutub) Frekuensi , 50 Hz 2 3000 4 1500 6 1000 8 750 10 600 12 500 14 429 Tabel Run-away speed Turbin, N maks/N Jenis Turbin Putaran Nominal, N (rpm) Runaway speed Semi Kaplan, single regulated 75-100 2-2.4 Kaplan, double regulated 75-150 2.8-3.2 Small-medium Kaplan 250-700 2.8-3.2 Francis (medium & high head) 500-1500 1.8-2.2 Francis (low head) 250-500 1.8-2.2 Pelton 500-1500 1.8-2 Crossflow 100-1000 1.8-2 Turgo 600-1000 2 2. Pemilihan Generator dan Sistem Kontrol Generator adalah suatu peralatan yang berfungsi mengubah energi mekanik menjadi energi listrik. Jenis generator yang digunakan pada perencanaan PLTMH ini adalah :  Generator sinkron, sistem eksitasi tanpa sikat (brushless exitation) dengan penggunaan dua tumpuan bantalan (two bearing).  Induction Motor sebagai Generator (IMAG) sumbu vertikal, pada perencanaan turbin propeller open flume Spesifikasi generator adalah putaran 1500 rpm, 50 Hz, 3 phasa dengan keluaran tegangan 220 V/380 V. Efisiensi generator secara umum adalah  Aplikasi < 10 KVA efisiensi 0.7 - 0.8  Aplikasi 10 - 20 KVA efisiensi 0.8 - 0.85  Aplikasi 20 - 50 KVA efisiensi 0.85  Aplikasi 50 - 100 KVA efisiensi 0.85 - 0.9  Aplikasi >. - 100 KVA efisiensi 0.9 - 0.95
Sistem kontrol yang digunakan pada perencanaan PLTMH ini menggunakan pengaturan beban sehingga jumlah output daya generator selalu sama dengan beban. Apabila terjadi penurunan beban di konsumen, maka beban tersebut akan dialihkan ke sistem pemanas udara (air heater) yang dikenal sebagai ballast load/dumy load.
Sistem pengaturan beban yang digunakan pada perencanaan ini adalah
 Electronic Load Controller (ELC) untuk penggunaan generator sinkron
 Induction Generator Controller (IGC) untuk penggunaan IMA
Sistem kontrol tersebut telah dapat dipabrikasi secara lokal, dan terbukti handal pada penggunaan di banyak PLTMH. Sistem kontrol ini terintegrasi pada panel kontrol (switch gear).
Fasillitas operasi panel kontrol minimum terdiri dari
 Kontrol start/stop, baik otomatis, semi otomatis, maupun manual
 Stop/berhenti secara otomatis
 Trip stop (berhenti pada keadaan gangguan: over-under voltage, over-under frekuensi.
 Emergency shut down, bila terjadi gangguan listrik (misal arus lebih)
Notes:
Keller, S.: Triebwasserweg und spezifische Probleme von Hochdruckanlagen. In: Kleinwasserkraftwerke, Projektierung und Entwurf Published by Prof. Dr. S. Radler, University for Soil Culture, Intitute for Water Management, Vienna, 1981



~ Tenaga Listrik Dengan Mikrohidro
Teknologi Mikrohidro

1.Tenaga Listrik dari Air
Sebuah skema hidro memerlukan dua hal yaitu debit air dan ketinggian jatuh (biasa disebut ‘Head’) untuk menghasilkan tenaga yang bermanfaat. Ini adalah sebuah sistem konversi tenaga, menyerap tenaga dari bentuk ketinggian dan aliran, dan menyalurkan tenaga dalam bentuk daya listrik atau daya gagang mekanik. Tidak ada sistem konversi daya yang dapat mengirim sebanyak yang diserap dikurangi sebagian daya hilang oleh sistem itu sendiri dalam bentuk gesekan, panas, suara dan sebagainya.

Gambar. Head adalah ketinggian vertikal dimana air jatuh.
Persamaan konversinya adalah:
Daya yang masuk = Daya yang keluar + Kehilangan (Loss)
atau
Daya yang keluar = Daya yang masuk × Efisiensi konversi
Persamaan di atas biasanya digunakan untuk menggambarkan perbedaan yang kecil. Daya yang masuk, atau total daya yang diserap oleh skema hidro, adalah daya kotor, Pgross. Daya yang manfaatnya dikirim adalah daya bersih, Pnet. Semua efisiensi dari skema gambar diatas disebut Eo.
Pnet = Pgross ×Eo kW
Daya kotor adalah head kotor (Hgross) yang dikalikan dengan debit air (Q) dan juga dikalikan dengan sebuah faktor (g = 9.8), sehingga persamaan dasar dari pembangkit listrik adalah :
Pnet = g ×Hgross × Q ×Eo kW (g=9.8)
dimana head dalam meter, dan debit air dalam meter kubik per detik (second (s)). Dan Eo terbagi sebagai berikut.
Eo = Ekonstruksi sipil × Epenstock × Eturbin × Egenerator × Esistem kontrol × Ejaringan × Etrafo
Biasanya
Ekonstruksi sipil : 1.0 - (panjang saluran × 0.002 ~ 0.005)/ Hgross
Epenstock >: 0.90 ~ 0.95 (tergantung pada panjangnya)
Eturbin : 0.70 ~ 0.85 (tergantung pada tipe turbin)
Egenerator : 0.80 ~ 0.95 (tergantung pada kapasistas generator)
Esistem kontrol> : 0.97
Ejaringan : 0.90 ~ 0.98 (tergantung pada panjang jaringan)
Etrafo : 0.98
Ekonstruksi sipil dan Epenstock adalah yang biasa diperhitungkan sebagai ‘Head Loss (Hloss)/kehilangan ketinggian’. Dalam kasus ini, persamaan diatas dirubah ke persamaan berikut.
Pnet= g ×(Hgross-Hloss) ×Q ×(Eo – Ekonstruksi sipil - Epenstock ) kW
Persamaan sederhana ini harus diingat: ini adalah inti dari semua disain pekerjaan pembangkit listrik. Ini penting untuk menggunakan unit-unit yang benar.

Efisiensi sistem yang spesifik untuk sebuah skema yang berjalan pada disain aliran penuh.

Terakhir diperbaharui ( Monday, 20 August 2007 )
Analisa Perhitungan Mikrohidro

Analisa Ekonomi Mikrohidro

Perhitungan Daya dan Energi Listrik
1 Perhitungan daya listrik pada sistem PLTMH
• Daya poros turbin
Pt=9.81 xQxHx n (1)
• Daya yang ditransmisikan ke generator
Ptrans = 9.81 x Q x H x nt x nbelt (1)
• Daya yang dibangkitkan generator
P~. = 9.81 x Q x H x nt x nbelt x ngen (3)
dimana :
Q = debit air, m3/detik
H = efektif head, m
ill: = efisiensi turbin
= 0.74 untuk turbin crossflow T-14
= 0.75 untuk turbin propeller open flume lokal
nbelt = 0.98 untuk flat belt, 0.95 untuk V belt
ngen = efisiensi generator
Daya yang dibangkitkan generator ini yang akan disalurkan ke pengguna. Dalam perencanaan jumlah kebutuhan daya di pusat beban harus di bawah kapasitas daya terbangkit, sehingga tegangan listrik stabil dan sistem menjadi lebih handal (berumur panjang)
2. Kebutuhan listrik masyarakat
Kebutuhan listrik masyarakat, khususnya pada program pelistrikan desa sangat dibatasi. Hal ini didasarkan ketersediaan potensi sumber daya air, kemampuan memelihara dan membiayai penggunaan listrik, serta besaran biaya pembangunan.
Salah satu faktor pembatas adalah. pemilihan pembatas arus terkecil di pasaran, yaitu 0.5 A, sehingga daya yang dapat digunakan untuk setiap sambungan instalasi rumah rata-rata sebesar 110 W. Penggunaan listrik masyarakat perdesaan dengan PLTMH ini, khusus untuk penerangan digunakan pada malam hari dengan pertimbangan pada siang hari sebagian besar masyarakat bekerja.
ESTIMASI BIAYA PEMBANGUNAN PLTMH
1 Analisis Harga Satuan
Perhitungan analisis harga satuan merupakan tahapan paling terdepan dari estimasi biaya pembangunan. Parameter perhitungan dan analisis harga satuan pekerjaan pada perencanaan PLTMH antara lain
• Lokasi sumber material diharapkan pada jarak terdekat dengan lokasi pekerjaan konstruksi
• Tenaga kerja yang digunakan menggunakan tenaga kerja lokal di lokasi proyek dengan upah didasarkan pada harga satuan yang berlaku di wilayah tersebut. Penggunaan tenaga kerja diluar lokasi, hanya pada tingkatan pengawas dan tukang untuk pekerjaan tertentu dengan upah didasarkan pada harga yang wajar.
• Harga satuan material diperoleh dari harga satuan material dan bahan yang berlaku di wilayah rencana pembangunan PLTMH dan disesuaikan dengan faktor lokasi proyek (penyesuaian biaya transportasi dan pengangkutan)
Secara umum komponen harga satuan yang diperhitungkan meliputi:
a. Komponen tenaga
Koefisien komponen tenaga untuk masing-masing harga satuan diperoleh dari analisa kebutuhan tenaga yang diperlukan untuk setiap pekerjaan sesuai dengan standar yang berlaku, khususnya dalam pekerjaan sipil
b. Komponen bahan dan material
Dalam perhitungan koefisien bahan dan material yang akan digunakan mengacu pada analisa satuan pekerjaan yang berlaku
c. Komponen peralatan
Perhitungan koefisien peralatan didasarkan pada peralatan yang digunakan dalam satuan pekedaan, sebagaimana yang berlaku secara umum dalam pekerjaan sipillkonstruksi.
Hasil perhitungan analisis harga satuan sesuai jenis pekerjaan dapat dilihat pada lampiran setiap lokasi rencana pembangunan PLTMH.
2 Komponen Biaya Pembangunan PLTMH
Komponen biaya pembangunan PLTMH pada studi perencanaan ini terdiri dari
1. Engineering
Komponen engineering pada pembangunan PLTMH dialokasikan untuk kegiatan detail desain, supervisi pembangunan, dan penyiapan dokumen teknis akhir pembangunan PLTMH. Pada beberapa kasus kegiatan ini dapat diasumsikan terintegrasi pada pelaksana pembangunan. Pada model pembangunan lainnya, khususnya yang melibatkan dana cukup besar, kegiatan engineering dilaksanakan oleh konsultan teknik yang bertanggung jawab mereview basic desain, mengawasi pelaksanaan (supervisi), menyiapkan dokumen teknis akhir, dan melaksanakan komisioning bersama pelaksana pem6ang'unan.
Komponen biaya engineering ini dihitung berdasarkan kebutuhan minimum penggunaan tenaga ahli senior dan berpengalaman pada bidang pekerjaan sipil, teknik mesin atau elektro, dan juru gambar.
2. Peralatan Elektrikal - Mekanik
Komponen peralatan elektrikal - mekanik meliputi pengadaan sarana dan peralatan :
Turbin dan perlengkapannya yang terdiri dari unit turbin, sistem transmisi mekanik, base frame, biaya instalasi dan trial run.
Generator dan base frame
Panel kontrol (switch gear dan kontrol beban) Ballast Load
Instalasi peralatan elektrikal dan sistem pengkabelan Biaya lain-lain (10%)
3. Pekerjan Sipil
Pekerjaan sipil pada pembangunan PLTMH meliputi:
Bangunan intake -weir, Saluran pembawa, Bak pengendap, Bak penenang, Pipa pesat, Bangunan pelimpas, Rumah pembangkit,Pondasi turbin (under ground),Saluran pembuangan,Biaya fain-lain (5%)
4. Jaringan Transmisi, Distribusi, dan Instalasi Rumah
• Tiang lisfrik
• Pengadaan kabel
• Instalasi rumah
• Biaya lain-lain (5%)
5. Komponen Lain-lain
Komponen lain-lain yang dimaksud pada bagian ini adalah alokasi untuk:
Penggunaan alat bantu khusus apabila harus diperlukan seperti: alat berat untuk penataan lokasi, alat angkut khusus untuk peralatan yang berat
Keuntungan pelaksana pembangunan (15%)
Training/pelatihan operator dan pengelola
6. Pajak
Komponen pajak dihitung terhadap total pekerjaan meliputi pekerjaan 1, 2, 3, 4 dan 5 di atas. Pajak yang diperhitungkan pada perencanaan ini adalah PPn sebesar 10%.
7. Biaya Pengembangan (Project Development)
Biaya pengembangan dapat dikatakan sebagai indirect cost. Komponen ini diperhitungkan sebagai akibat proses penyiapan dan perencanaan pembangunan PLTMH yang tidak mudah dan memerlukan kegiatan pendukung. Besaran Mokasi biaya pengembangan diestimasi berdasarkan prosentase.
Aktivitas yang berkait dengan kegiatan pengembangan ini adalah kegiatan administrasi proyek, manajemen proyek di tingkat owner (pemilik pekerjaan), biaya legal, penyiapan dan pelaksanaan tender, ganti rugi atas pembebasan tanah apabifa ada, monitoring dan evaluasi proyek di tingkat owner.
Sebagai acuan, estimasi biaya pengembangan dikelompokan menjadi: * Manajemen proyek (10%) dari total biaya fisik dan pajak * Tender, kontrak dan legal (5%) dari total biaya fisik dan pajak * Ganti rugi
Referensi dari prosentase dan harga satuan orang berdasarkan standar biaya orang nasionai (Bappenas) dan beberapa rekomendasi pada kegiatan pembangunan PLTMH seperti yang dikeluarkan oleh J1CA dan tingkat kewajaran yang berlaku umum.
Komponen Biaya Operasional
Perawatan PLTMH memegang peranan penting dalam menjaga sustainibility dan kehandalan operasi. Pengelola harus dapat menangani kegiatan perawatan dan membiayainya. Kegiatan perawatan ada yang bersifat periodik (penggantian oli) ada yang bersifat temporer setiap ada kerusakan pada fasilitas bangunan sipil, peralatan elektrikal - mekanik, maupun jaringan transmisi dan distribusi.
Sebagai gambaran kebutuhan biaya perawatan PLTMH, analisis dilakukan untuk periode tahunan (annual cost). Besar biaya perawatan setiap lokasi akan berbeda. Estimasi biaya operasional untuk setiap PLTMH terlampir pada laporan masing~ masing lokasi PLTMH.
Analisis Finansial Skema On Grid
Pada pembangunan PLTMH dengan skerna On-Grid System dilakukan perhitungan kelayakan secara ekonomis. Aspek penilaian kelayakan dilakukan dengan kriteria :
• Pay back periods atau pengembalian investasi maksimum 213 dari umur ekonomis proyek.
• NPV (net present value) investasi > 0
• IRR (internal rate of return) > discount rate
• Profitability Indeks > 1
Parameter atau asumsi yang digunakan pada perhitungan cash flow ditetapkan sebagai berikut:
• Kenaikan biaya OM (operasi dan maintenance) setiap tahun sebesar 4%
• Suku bunga pinjaman kornersial 17%-18%
• Suku bunga deposito 10%
• Tingkat resiko penggunaan equity 5%
Penyesuaian tarif jual listrik ke PLN setiap tahun 2,5%
Skerna investasi 100% equity, dan equity.. loan (60%: 40%)
Depresiasi 10 tahun
Grace periods pengembalian pinjaman 2 tahun
Jangka waktu pengembalian pinjaman 10 tahun
Berdasarkan hasil analisa kelayakan dapat disimpulkan bahwa faktor tarif menjadi kunci menarik tidaknya investasi pada pembangunan PLTMH. Investasi pembangunan PLTMH akan menarik untuk kapasitas pembangkitan skala minihidro > 100 W Pada skala minihidro ini biaya pembangunan per kW daya terpasang
cukup kecil < Rp 10 juta per kW, energi listrik yang dijual cukup besar, pendapatan penjualan energi listrik lebih besar, sehingga tingkat pengembalian investasi lebih baik. Analisa kelayakan ekonomi pada skema on - grid ini dapat dilihat pada laporan lokasi potensi pembangunan PLTMH (site report). Penutup Investasi pembangunan PLTMH relatif besar sekitar Rp 20 jutalkW terbangkit dengan tidak memasukkan biaya perencanaan dan pengembangan proyek pemerintah. Biaya pembangunan ini semakin besar untuk kapasitas pembangkitan yang kecil, yaitu berkisar Rp 26 juta per kW untuk kapasitas 20 _-30 W. Semakin besar kapasitas pembangkitan maka biaya pembangunan per kW akan menurun, berkisar Rp 16 - 17 juta untuk kapasitas 40 kW - 50 kW dan di bawah Rp 10 juta per kW untuk skala minihidro, > 100 W. Hal ini dapat menjadi acuan apabila pembangunan dilakukan oleh swasta dengan sumber pembiayaan di luar APBD atau APBN.
Besamya biaya pembangunan ini tentunya diharapkan dapat diimbangi oleh kemampuan masyarakat dalam mengoperasikan, mengelola dan mengembangkan PLTMH sebagai motor penggerak kegiatan ekonomi pedesaan dan kegiatan produktif kelompok masyarakat. Identifikasi potensi pengembangan kegiatan ekonomi produktif seperti agro processing, home industri dan agro, industri sangat penting dilakukan baik oleh masyarakat maupun pemerintah dan pihak-pihak yang interest dalam pengembangan kegiatan ekonomi masyarakat untuk mengoptimalkan fungsi PLTMH selain untuk penerangan.
Pada saatnva, realisasi pelaksanaan pembangunan PLTMH memerlukan kompetensi dari pelaku atau pelaksana pembangunan. Hal ini disebabkan sifat pembangunan PLTMH yang khas sebagai bagian kegiatan pengembangan masyarakat (community development).
Pada skerna pembangunan PLTMH sebagai unit usaha (on grid system) maka idealnya biaya pembangunan paling efisien dan memberikan tingkat pengembalian yang tinggi yang akan menarik investor/swasta. Dalam hal ini pembangkitan skala minihidro, > 100 kW dapat memberikan kelayakan finansial yang baik dan menarik untuk distudi lebih jauh sebagaimana dapat dilihat pada laporan setiap lokasi, khususnya untuk skerna on grid.
~ Panduan Untuk Pembangunan Mikro Hidro Power
1. Tujuan dari Panduan untuk Pembangunan Pembangkit Listrik Mikro Hidro
Mikrohidro adalah istilah yang digunakan untuk instalasi pembangkit listrik yang mengunakan energi air. Kondisi air yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber daya (resources) penghasil listrik adalah memiliki kapasitas aliran dan ketiggian tertentu dad instalasi. Semakin besar kapasitas aliran maupun ketinggiannya dari istalasi maka semakin besar energi yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik.
Biasanya Mikrohidro dibangun berdasarkan kenyataan bahwa adanya air yang mengalir di suatu daerah dengan kapasitas dan ketinggian yang memadai. Istilah kapasitas mengacu kepada jumlah volume aliran air persatuan waktu (flow capacity) sedangan beda ketingglan daerah aliran sampai ke instalasi dikenal dengan istilah head. Mikrohidro juga dikenal sebagai white resources dengan teluemahan bebas bisa dikatakan "energi putih". Dikatakan demikian karena instalasi pembangkit listrik seperti ini mengunakan sumber daya yang telah disediakan oleh alam dan ramah lingkungan. Suatu kenyataan bahwa alam memiliki air terjun atau jenis lainnya yang menjadi tempat air mengalir. Dengan teknologi sekarang maka energi aliran air beserta energi perbedaan ketinggiannya dengan daerah tertentu (tempat instalasi akan dibangun) dapat diubah menjadi energi listrik,
Seperti dikatakan di atas, Mikrohidro hanyalah sebuah istilah. Mikro artinya kecil sedangkan hidro artinya air. Dalam, prakteknya istilah ini tidak merupakan sesuatu yang baku namun bisa dibayangkan bahwa Mikrohidro, pasti mengunakan air sebagai sumber energinya. Yang membedakan antara istilah Mikrohidro dengan Miniihidro adalah output daya yang dihasilkan. Mikrohidro menghasilkan daya lebih rendah dad
100 W, sedangkan untuk minihidro daya keluarannya berkisar antara 100 sampai 5000 W. Secara teknis, Mikrohidro memiliki tiga komponen utama yaitu air (sumber energi), turbin dan generator. Air yang mengalir dengan kapasitas tertentu disalurkan clan ketinggian tertentu menuju rumah instalasi (rumah turbin). DI rumah instalasi air tersebut akan menumbuk turbin dimana turbm' sendin, dipastikan akan mencrima energi air tersebut dan mengubahnya menjadi energi mckanik berupa berputamya poros turbin. Poros yang berputar tersebut kemudian ditransmisikan ke generator dengan mengunakan kopling. Darl generator akan dthaslikan energi listrik yang ak-an masuk ke sistem kontrol arus listrik sebelum dialirkan ke rumah-rumah atau keperluan lainnya (beban). Begitulah secara ringlcas proses Mikrohidro merubah energi aliran dan ketinggian air menjadt energi listrik.
Terdapat sebuah peningkatan kebutuhan suplai daya ke daerah-daerah pedesaan di sejumlah negara, sebagian untuk mendukung industri-industri, dan sebagian untuk menyediakan penerangan di malam hari. Kemampuan pemerintah yang terhalang oleh biaya yang tinggi dari perluasan jaringan listrik, sering membuat Mikro Hidro memberikan sebuah alternatif ekonomi ke dalam jaringan. Ini karena Skema Mikro Hidro yang mandiri menghemat biaya dari jaringan transmisi, dan karena skema perluasan jaringan sering memerlukan biaya peralatan dan pegawai yang mahal. Dalam kontrak, Skema Mikro Hidro dapat didisain dan dibangun oleh pegawai lokal dan organisasi yang lebih kecil dengan mengikuti peraturan yang lebih longgar dan menggunakan teknologi lokal seperti untuk pekerjaan irigasi tradisional atau mesin-mesin buatan lokal. Pendekatan ini dikenal sebagai Pendekatan Lokal. Gambar 1 menunjukkan betapa ada perbedaan yang berarti antara biaya pembuatan dengan listrik yang dihasilkan.

Gambar 1. Skala Ekonomi dari Mikro-Hidro (berdasarkan data tahun 1985)



Keterangan gambar 1
Average cost for conventional hydro = Biaya rata-rata untuk hidro konvensional.
Band for micro hydro = Kisaran untuk mikro-hidro
Capital cost = Modal
Capacity = Kapasitas (kW)

2. Komponen-komponen Pembangkit Listrik Mikro Hidro

Gambar 2. Komponen-komponen Besar dari sebuah Skema Mikro Hidro

• Diversion Weir dan Intake (Dam/Bendungan Pengalih dan Intake)
Dam pengalih berfungsi untuk mengalihkan air melalui sebuah pembuka di bagian sisi sungai (‘Intake’ pembuka) ke dalamsebuah bak pengendap (Settling Basin).


• Settling Basin (Bak Pengendap)
Bak pengendap digunakan untuk memindahkan partikel-partikel pasir dari air. Fungsi dari bak pengendap adalah sangat penting untuk melindungi komponen-komponen berikutnya dari dampak pasir.

• Headrace (Saluran Pembawa)
Saluran pembawa mengikuti kontur dari sisi bukit untuk menjaga elevasi dari air yang disalurkan.

• Headtank (Bak Penenang)
Fungsi dari bak penenang adalah untuk mengatur perbedaan keluaran air antara sebuah penstock dan headrace, dan untuk pemisahan akhir kotoran dalam air seperti pasir, kayu-kayuan.


• Penstock (Pipa Pesat/Penstock)
Penstock dihubungkan pada sebuah elevasi yang lebih rendah ke sebuah roda air, dikenal sebagai sebuah Turbin.


• Settling Basin (Bak Pengendap)
Bak pengendap digunakan untuk memindahkan partikel-partikel pasir dari air. Fungsi dari bak pengendap adalah sangat penting untuk melindungi komponen-komponen berikutnya dari dampak pasir.


• Headrace (Saluran Pembawa)
Saluran pembawa mengikuti kontur dari sisi bukit untuk menjaga elevasi dari air yang disalurkan.

• Turbine dan Generator (Turbin dan Generator)
Perputaran gagang dari roda dapat digunakan untuk memutar sebuah alat mekanikal (seperti sebuah penggilingan biji, pemeras minyak, mesin bubut kayu dan sebagainya), atau untuk mengoperasikan sebuah generator listrik. Mesin-mesin atau alat-alat, dimana diberi tenaga oleh skema hidro, disebut dengan ‘Beban’ (Load).
Dalam Gambar 2. bebannya adalah sebuah penggergajian kayu.


Tentu saja ada banyak variasi pada penyusunan disain ini. Sebagai sebuah contoh, air dimasukkan secara langsung ke turbin dari sebuah saluran tanpa sebuah penstock seperti yang terlihat pada penggergajian kayu di Gambar 2. Tipe ini adalah metode paling sederhana untuk mendapatkan tenaga air tetapi belakangan ini tidak digunakan untuk pembangkit listrik karena efisiensinya rendah. Kemungkinan lain adalah bahwa saluran dapat dihilangkan dan sebuah penstock dapat langsung ke turbin dari bak pengendap pertama. Variasi seperti ini akan tergantung pada karakteristik khusus dari lokasi dan
skema keperluan-keperluan dari pengguna.
PLTMH – Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro -3
Posted on 14 Januari, 2008 by elkace
Teknologi Tepat Guna
Mikro Hidro Sistem Sentrifugal Pembangkit Listrik dan Pompa AirSELAIN berfungsi sebagai sumber air baku untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, air juga berfungsi sebagai sumber pengairan dan pembangkit energi listrik. Ketersediaan air di tanah air begitu melimpah. Sayangnya, meski air begitu melimpah, masih saja dijumpai ketimpangan dalam hal pemanfaatan air, baik air baku maupun energi listrik yang bersumber dari air.
Bisa dikatakan, potensi sumber daya air masih belum dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan rakyat. Di daerah-daerah pegunungan atau dataran tinggi, masih banyak dijumpai penduduk yang kekurangan air baku saat musim kemarau. Demikian juga di daerah-daerah tertentu, belum bisa menikmati energi listrik yang bersumber dari tenaga air. padahal, ketersediaan air di sekitarnya begitu melimpah.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air (Pusair) Departemen Pekerjaan Umum telah merancang sebuah prototipe mikro hidro sistem sentrifugal untuk pembangkit listrik dan pompa air.
Mikro hidro sistem sentrifugal rancangan Pusair ini adalah prototipe mesing anda (pompa air dan sumber tenaga listrik) yang mampu untuk menaikkan air dengan kapasitas minimal 10 persen dari volume air yang diperlukan dalam tidap detiknya. Selain itu, mesin juga mampu menghasilkan tenaga listrik tanpa menggunakan bahan bakar maupun tenaga listrik. Bahan penggeraknya adalah tenaga air.
Pompa air dan tenaga listrik (water lisft-up pump & hydro power) mampu menaikkan air setinggi 9-12 meter dengan kapasitas 25-30 liter/detik dari masukan air sebesar minimal 250 liter/detik. Jadi, dapat dimanfaatkan untuk daerah pertanian di wilayah perbukitan seluas 20-30 ha. Selain itu, mesin ini dapat pula membangkitkan tenaga listrik kl. 4 Kw atau 5,5 HP yang dapat dipergunakan untuk listrik pedesaan baik kebutuhan rumah tangga maupun industri kecil (home industry).
Keuntungan
Mesin ini digerakkan dengan tenaga air dan berarti bebas dari menggunakan bahan bakar maupun listrik. Mesin ini sangat tepat sekali digunakan sebagai alat penunjang keperluan air baku (pertanian, peternakan, industri dewasa ini). Dengan pemeliharaan yang sederhana, diperoleh hasil ganda yang berkelanjutan.
Konstruksi mesin
Pompa air dan tenaga listrik adalah gabungan antara turbin jenis “Kaplan”, pompa jenis “Valute”, dan Dinamo (generator). Mesin ini dibuat dari besi cor dalam beberapa bagian sehingga mudah dalam transportasinya, serta mudah dalam pemasangannya (assembling). Mesin ini terdiri atas tiga bagian, yaitu: bagian turbin, pompa air, dan generator.
Penggabungan bagian-bagian mesin
Penggabungan bagian-bagian mesin dapat dilaksanakan di lokasi pemakai atau di pabrik, sesuai kehendak pemakai. Bila dilaksanakan di tempat pemakai berarti memudahkan dalam pengirimannya karena akan dikemas menjadi beberapa bagian sehingga dapat dibawa dengan kendaraan kecil.
Bila dilaksanakan di pabrik berarti pengirimannya harus menggunakan truk medium. Pada saat penggabungan yang harus diperhatikan adalah packing-packing-nya.
Syarat pemasangan mesin
Pemasangan mesin pompa dan tenaga listrik ini harus memenuhi persyaratan yang ditentukan sebagai berikut:
1. Syarat Hidraulik
a. Adanya tinggi perbedaan muka air hulu dan muka air hilir minimal 2,5 m;
b. Debit air yang diperlukan minimal 250 liter/detik.
2. Syarat teknis mesin
a. Pipa pesat ukuran f10″;
b. Pipa-L 135 derajat f 10″;
c. Katupan ukuran f 10″ untuk mengatur start dan stop;
d. Pipa pengeluaran f 4″ daru rumah keong;
e. Pila-L f4:.
3. Syarat bangunan sipil
a. Baik air penenang ukuran 1 x 1 x 0,5 meter yang terbuat dari pasangan batu/beton dilengkapi lobang-lobang penguras pasir dan saringan kotoran;
b. Dudukan mesin yang dibuat dari beton bertulang yang dilengkapi dengan baut tanam.
Pemeliharaan:
Pemeliharaan mesin ini sangat sederhana, namun harus selalu diperhatikan adalah:
1. Bak penenang maupun saringan pada pintu air masuk harus selalu dikontrol jangan sampai kotoran masuk ke pipa pusat.
2. Apabila hasil mesin berkurang (debit air dan voltase berkurang), maka segera periksa:
* Apakah volume air pada bak penenang berkurang?
* Apakah ruang turbin banyak kotoran?
* Apakah mulut outlet turbin terendam lumpur?
* Ada bocoran pipa pesat?
(Rameli Agam/Galura)***http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/1205/01/cakrawala/lain01.htm
FiPLTMH

INOVATOR ”PEMBANGKIT TENAGA MIKROHIDRO MODEL DRUM (PTMMD) SEBAGAI ALTERNATIF YANG PRAKTIS DALAM PEMANFAATAN POTENSI AIR SKALA KECIL DI PEDESAAN”
Energi saat ini merupakan isu sangat penting yang membutuhkan penanganan yang tepat. Walaupun Sumatera Barat mempunyai banyak sumber energi di luar minyak bumi seperti sumber daya air sebagai pembangkit tenaga listrik dan sumber daya mineral batubara, namun potensi tersebut harus direncanakan, dikelola dan dimanfaatkan secara optimal bagi sebesar–besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Potensi energi di Sumatera Barat yang dapat dipergunakan sebagai energi alternatif dan sudah dimanfaatkan saat ini adalah sumber daya air untuk pembangkit energi listrik baik pada skala besar seperti PLTA Singkarak, PLTA Maninjau, dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM).

Realitas yang ada ternyata potensi air yang mengalir melalui sungai-sungai kecil di pedesaan belum dimanfaatkan secara maksimal, pemanfaatannya terbatas untuk mencuci dan irigasi desa sedang pemanfaatan sebagai sumber energi alternatif masih terbatas. Memang saat ini telah dibangun pembangkit listrik skala kecil yang populer disebut Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM), tetapi itu jumlahnya sangat sedikit dibanding dengan potensi air yang ada. Semua PLTM yang dioperasikan tersebut dibangun dengan kontruksi permanen. Bangunan sipil sistem pembangkit ini lebih dominan baik volume kerja maupun bahan yang digunakan saat pembangunan, lahan yang dibutuhkannyapun cukup luas sehingga biaya investasi dan pemeliharaan relatif lebih mahal. Dengan karakteristik seperti itu menjadi kendala bagi penyebaran dan pengembangan PLTM di masyarakat. Ini sebuah kerugian besar karena potensi energi yang ada di depan mata tak dapat dimanfaatkan segera.
Memperhatikan permasalahan di atas timbul pertanyaan, bagaimana menciptakan sistem pembangkit yang praktis, biaya investasi yang murah, mudah pengoperasiannya hingga dapat dimiliki dengan mudah oleh perorangan atau oleh kelompok kecil masyarakat desa ?. Melalui sebuah penelitian, peneliti menggagas ide dan Alhamdulillah telah berhasil mewujudkan sistem Pembangkit yang praktis dan murah itu yang kami sebut sebagai sistem Pembangkit Tenaga Mikrohidro Model Drum (PTMMD) lengkap dengan Turbin Cross Flow sebagai penggerak mulanya. PTMMD memiliki bangunan mekanik lebih dominan dengan jumlah komponen pembangkit relatif sedikit, tidak membutuhkan pipa pesat karena bak penenang sekaligus berfungsi sebagai pipa pesat. Keunggulan lain dari sistem pembangkit model drum ini ialah rugi-rugi aliran atau loses relatif lebih kecil dibanding sistem pembangkit konvensional, mulai dari drum/bak penenang sampai saluran buang dapat diurai menjadi beberapa komponen, dengan demikian mobilitas dan pelaksanaan pembangunan/ perakitan PTMMD di lapangan relatif lebih cepat. Investasi PTMMD relatif lebih murah sehingga menjadi solusi dalam mempercepat penyebaran dan pengembangan pembangkit mikrohidro ke depan. Dengan memanfaatkan head 2,5 m dan debit 20 liter/det, PTMMD yang dibangun ini dapat membangkitkan daya sekitar 430 Watt yang dimanfaatkan untuk menggerakan generator listrik.
Hasil atau output dari inovasi teknologi yang peneliti usulkan ini bukan sebuah prototipe atau model yang hanya bisa unjuk kebolehan di dalam ruang pameran saja dan belum tentu dapat bermanfaat di masyarakat. Tetapi luaran dari inovasi teknologi yang peneliti usulkan ini telah teruji terbukti dengan telah diwujudkannya sistem PTMMD yang dapat membangkitkan energi listrik. Disamping itu bukan hanya wujud fisik saja yang dapat peneliti banggakan tetapi melalui inovasi ini telah dihasilkan suatu ide radikal, ini adalah satu-satunya temuan sistem pembangkit model drum dan belum ada peneliti lain yang menggagasnya, kami telah membuat sebelum yang lain memikirkannya.
Diharapkan melalui lomba inovasi teknologi ini informasi tentang PTMMD dapat lebih cepat menyebar luas dan menjadi ide pendorong masyarakat untuk mengembangkan dan mengaplikasikannya membangun PTMMD di tempatnya masing-masing sesuai dengan kemampuan dan pemanfaatannya. Teknologi PTMMD ini merupakan langkah awal untuk menghasilkan sistem PTMMD yang lebih unggul ke depan, lebih mudah dan murah dan memiliki efisiensi yang lebih baik. Kami optimis hal itu dapat tercapai mengingat inovator-inovator kebanggaan kita sangat kreatif dan inovatif. Berikut diuraikan hasil pengujian efisiensi sistem pembangkit serta efisiensi penggerak mula turbin yang merupakan output dari sistem PTMMD

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar